Halo, sobat urban Jakarta! Siapa sih yang nggak kangen nongkrong di mal setelah masa-masa pandemi yang bikin sepi? Kabar baik nih, okupansi mal di Jakarta mulai stabil lagi, bahkan menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang mantap. Menurut data terbaru dari firma konsultan seperti Cushman & Wakefield dan Colliers, tingkat hunian pusat perbelanjaan di ibu kota sudah menyentuh angka 78-86% di akhir 2025 dan awal 2026. Yang bikin interesting, penopang utamanya adalah tenant F&B (food & beverage) plus segmen gaya hidup seperti fashion, beauty, dan entertainment.
Bayangin aja, dulu banyak mal yang kosong melompong, tapi sekarang ramai lagi. Ini bukan cuma soal belanja, tapi lebih ke experience – makan enak, foto-foto, atau sekadar hangout. Artikel ini bakal bahas kenapa okupansi mal di Jakarta bisa bangkit, apa peran besar F&B dan lifestyle, plus prospek ke depannya. Yuk, kita kulik bareng!
Kondisi Terkini Okupansi Mal di Jakarta
Oke, langsung ke intinya. Okupansi mal di Jakarta memang lagi on the rise. Di Q4 2025, Cushman & Wakefield catat tingkat hunian rata-rata 78,4%, naik dibanding tahun sebelumnya. Sementara CBRE bilang sudah tembus 86% di mal-mal premium. Bedanya? Mal kelas atas seperti di kawasan CBD atau PIK masih kuat di atas 90%, sementara yang menengah bawah sekitar 60-70%.
Kenapa bisa stabil? Ekonomi Indonesia lagi membaik, daya beli masyarakat naik, plus orang-orang lagi craving pengalaman di luar rumah. Trafik pengunjung mal juga meningkat, apalagi pas weekend atau liburan. Nggak heran kalau banyak mal yang dulu waiting list tenantnya panjang, sekarang mulai penuh lagi.
Faktor lain, pasokan mal baru di Jakarta relatif nihil karena moratorium. Jadi, mal existing bisa fokus improve tenant mix tanpa takut kompetisi berlebih.
Peran Besar Tenant F&B dalam Menyelamatkan Mal
Nah, ini nih bintang utamanya: F&B! Sektor makanan dan minuman jadi penopang utama okupansi mal di Jakarta. Colliers bilang, F&B terus jadi demand driver terkuat. Dari restoran full-service sampai coffee shop kekinian, semuanya laris.
Kenapa F&B begitu powerful? Orang Indonesia kan doyan banget kulineran. Makan di mal bukan cuma soal kenyang, tapi social experience – ngobrol sama teman, foto makanan aesthetic, atau coba menu viral. Food court modern seperti Food Society atau area makan di PIK Avenue selalu ramai.
Contohnya:
- Brand internasional seperti Starbucks, Genki Sushi, atau Ojju K-Food lagi ekspansi gila-gilaan.
- Local hero kayak Kopi Kenangan atau mixue juga nggak kalah.
- Tren K-Food dan bubble tea bikin antrean panjang.
Hasilnya? Tenant F&B bisa tarik trafik tinggi, yang otomatis bikin pengunjung lama-lama belanja di toko lain. Win-win!
Tenant Gaya Hidup: Fashion, Beauty, dan Lifestyle yang Bikin Mal Hidup
Selain makan, gaya hidup juga jadi magnet kuat. Okupansi mal di Jakarta ditopang banget sama tenant fashion, beauty, gym, sampai entertainment. JLL catat, lifestyle dan fashion brands lagi agresif ekspansi, mengikuti momentum F&B.
Bayangin, mal sekarang bukan cuma tempat beli baju, tapi destination untuk self-care. Toko seperti Uniqlo, H&M, Zara, atau brand lokal lagi full. Beauty store kayak Sephora, Chanel, atau The Body Shop juga ramai, apalagi dengan tren skincare Korea.
Lalu ada gym premium seperti Celebrity Fitness atau area spa. Entertainment? Bioskop lagi hits lagi, plus arcade atau event space.
Beberapa poin menarik:
- Brand asing banyak masuk, bikin mal lebih premium.
- Konsep pop-up store atau collaboration (misal fashion x cafe) bikin pengunjung betah.
- Lifestyle tenant ini tarik segmen muda dan middle-up yang spending-nya tinggi.
Tren Retailtainment: Mal Jadi Tempat Hiburan, Bukan Cuma Belanja
Ini tren yang lagi hot: retailtainment! Mal di Jakarta mulai shift dari pure shopping ke entertainment + retail. Contohnya event musik, workshop, atau instalasi fotoable.
PIK Avenue atau Pantai Indah Kapuk jadi contoh sukses – area outdoor dengan lampu cantik, live music, dan F&B variatif. Plaza Indonesia atau Senayan City juga sering gelar fashion show atau pop-up market.
Kenapa ini penting untuk okupansi mal di Jakarta? Karena orang sekarang mau experience, bukan cuma transaksi. Mal yang bisa kasih vibe fun bakal lebih ramai, tenantnya pun betah.
Beberapa ide retailtainment yang lagi tren:
- Area outdoor dining dengan view bagus.
- Kolaborasi dengan influencer atau brand viral.
- Event seasonal seperti Christmas decoration atau Halloween party.
Contoh Mal Sukses di Jakarta yang Okupansinya Tinggi
Beberapa mal yang lagi on fire:
- Plaza Indonesia: Target okupansi di atas 90% tahun 2026, tenant luxury dan F&B premium.
- PIK Avenue: Ramai banget, waiting list tenant panjang berkat vibe lifestyle.
- Pantai Indah Kapuk area: Banyak mal baru dengan konsep modern.
- Grand Indonesia atau Central Park: Tenant mix seimbang, trafik stabil.
Mal-mal ini sukses karena paham apa yang diinginkan pengunjung: campuran makan enak, belanja trendy, dan hiburan.
Prospek Okupansi Mal di Jakarta ke Depan
Ke depan, okupansi mal di Jakarta diprediksi terus naik. Colliers proyeksi bisa tambah 2% per tahun, didukung ekonomi stabil dan tourism rebound. Tantangannya? Kompetisi e-commerce tetap ada, jadi mal harus inovatif.
Tips buat pengelola mal: Fokus ke tenant experience-driven, perbanyak event, dan jaga kebersihan plus safety. Buat kita sebagai pengunjung, nikmati aja – mal lagi asik banget sekarang!
Intinya, okupansi mal di Jakarta mulai stabil berkat strategi pintar yang mengandalkan F&B dan gaya hidup. Ini sinyal positif buat ekonomi ritel kita. Kamu mal favorit mana nih yang lagi sering dikunjungi? Share di komentar ya!






