Indonesia Timur menyimpan potensi pariwisata luar biasa. Bali mencatat rekor 7,05 juta wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang 2025. NTB dan NTT juga menunjukkan tren kunjungan meningkat. Pada 30 Januari 2026, inJourney menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) Regional Bali-Nusra dengan Pemprov Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) di Golo Mori Convention Center (GMCC), Labuan Bajo, NTT. Kolaborasi ini mengintegrasikan layanan aviasi, bandara, dan pengelolaan kawasan pariwisata. Tujuannya meningkatkan konektivitas, mempermudah perjalanan wisatawan, serta mendorong pariwisata berkualitas dan berkelanjutan di pariwisata Indonesia Timur. Hasilnya, trafik wisatawan naik dan dampak ekonomi regional semakin nyata.
Artikel ini membahas potensi wilayah, tantangan, detail kolaborasi inJourney, peran Golo Mori, manfaat ekonomi, serta prospek keberlanjutan. Anda akan menemukan wawasan lengkap tentang upaya strategis ini.
Potensi Pariwisata di Bali, NTB, dan NTT
Bali tetap menjadi ikon pariwisata Indonesia. Pulau Dewata menawarkan pantai indah, pura sakral, dan budaya unik. Pada 2025, total kunjungan wisatawan mencapai sekitar 16,33 juta orang. Wisatawan mancanegara mendominasi dengan pertumbuhan 11,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Mereka menikmati pengalaman mandiri dan fleksibel di destinasi super prioritas seperti Ubud dan Seminyak.
NTB menyuguhkan keindahan alam yang beragam. Mandalika di Lombok menjadi pusat balap internasional dan wisata pantai. Gili Trawangan menarik pecinta diving. Januari hingga September 2025, NTB mencatat 1,8 juta kunjungan wisatawan dengan belanja mencapai Rp19,4 triliun. Target 2026 mencapai 2,5 juta kunjungan. Pengembangan ini memanfaatkan kekayaan budaya Sasak dan alam vulkanik Rinjani.
NTT menonjol dengan destinasi eksotis. Labuan Bajo menjadi gerbang Komodo National Park, situs warisan UNESCO. Pulau-pulau kecil, pantai pink, dan budaya Flores menarik wisatawan petualang. Tren kunjungan pasca-pandemi terus naik. Event seperti International Golo Mori Jazz 2025 berhasil menarik pengunjung dengan pengeluaran rata-rata Rp2,9 juta per orang per hari. Multiplier effect mencapai 2,1 kali investasi event.
Ketiga provinsi ini saling melengkapi. Integrasi Bali sebagai hub utama, NTB sebagai destinasi petualangan, dan NTT sebagai ekowisata premium menciptakan paket wisata lengkap untuk pariwisata Indonesia Timur.
Tantangan dalam Mengembangkan Pariwisata Indonesia Timur
Pariwisata Indonesia Timur menghadapi sejumlah hambatan. Konektivitas udara antar pulau masih terbatas. Penerbangan langsung ke destinasi sekunder sering tidak tersedia, sehingga wisatawan mengalami transit panjang.
Infrastruktur pendukung juga perlu peningkatan. Beberapa kawasan di NTT kekurangan akomodasi berkualitas dan akses jalan. Musim hujan memengaruhi kunjungan ke pulau-pulau terpencil.
Persaingan global semakin ketat. Destinasi Asia Tenggara lain menawarkan paket serupa dengan promosi lebih agresif. Over-tourism di Bali menimbulkan isu lingkungan dan sosial, sementara NTB dan NTT masih perlu membangun kapasitas SDM pariwisata.
Pandemi memperlihatkan kerentanan terhadap fluktuasi wisatawan. Tanpa diversifikasi produk dan promosi berkelanjutan, pemulihan lambat. Kolaborasi lintas provinsi menjadi kunci mengatasi tantangan ini.
Inisiatif Kolaborasi inJourney dengan Tiga Pemprov
inJourney sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata memimpin sinergi ini. Penandatanganan PKS di GMCC menandai komitmen bersama. Kolaborasi mengintegrasikan layanan dari hulu ke hilir: bandara, penerbangan, hingga manajemen destinasi.
InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mengelola infrastruktur MICE internasional. Sinergi ini meningkatkan konektivitas antar destinasi Bali, NTB, dan NTT. Wisatawan kini lebih mudah berpindah antar pulau dengan jadwal terpadu.
Maya Watono, Direktur Utama InJourney, menyatakan sinergi ini mendorong peningkatan trafik wisatawan dan dampak ekonomi nyata. Ahmad Fajar dari ITDC menekankan kolaborasi menjadi fondasi ekosistem pariwisata terintegrasi yang mendorong pertumbuhan regional.
Hasil langsung terlihat pada kemudahan penyelenggaraan event skala besar. Wisatawan menikmati perjalanan mulus dari bandara menuju kawasan wisata.
Peran Strategis Golo Mori sebagai Hub MICE Indonesia Timur
Golo Mori di Labuan Bajo, NTT, menjadi pusat utama kolaborasi. Kawasan ini dikelola ITDC dan menawarkan fasilitas kelas dunia. GMCC berkapasitas hingga 2.000 orang, diresmikan 2023. Desainnya menggabungkan MICE modern dengan lanskap alam Laut Flores yang indah.
Fasilitas pendukung mencakup:
- Nuka Beach Club untuk kuliner dan rekreasi pantai
- Heliport untuk konektivitas VIP
- Area konvensi dan pameran internasional
Model Sustainable Marine-Based MICE Tourism Destination menjamin kualitas, keberlanjutan, dan daya saing global. Event seperti Golo Mori Jazz 2025 dan Sunset Run 2025 melampaui target. Pengunjung menghabiskan lebih banyak dan melibatkan UMKM lokal.
Golo Mori kini menjadi hub MICE strategis Indonesia Timur. Ia menghubungkan Bali sebagai pintu masuk utama dengan destinasi NTB dan NTT.
Manfaat Kolaborasi bagi Ekonomi dan Masyarakat Lokal
Kolaborasi ini membuka peluang ekonomi besar. Peningkatan trafik wisatawan meningkatkan pendapatan hotel, restoran, transportasi lokal, dan UMKM. Di Golo Mori, event 2025 menghasilkan multiplier effect 2,1 kali, dengan mayoritas tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
Masyarakat mendapat manfaat langsung berupa lapangan kerja baru di sektor pariwisata dan kreatif. Pelatihan SDM meningkatkan kualitas layanan. Dampak sosial mencakup pelestarian budaya dan pemberdayaan perempuan serta pemuda di desa wisata.
Secara regional, integrasi Bali-Nusra memperkuat posisi Indonesia di peta MICE dunia. Destinasi semakin kompetitif menarik investor dan event internasional. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi inklusif di pariwisata Indonesia Timur semakin terasa.
Aspek Keberlanjutan dan Inovasi Pariwisata
inJourney menargetkan pengurangan emisi hingga 4.000 ton CO2e pada 2026 melalui transformasi aviasi dan pariwisata berkelanjutan. Model pariwisata di Golo Mori menekankan pelestarian lingkungan laut dan darat.
Inovasi mencakup digitalisasi layanan pemesanan terintegrasi dan promosi wisata ramah lingkungan. Wisatawan diajak ikut program konservasi Komodo dan terumbu karang. Pendekatan ini menjaga kelestarian destinasi sambil memberikan pengalaman autentik.
Kolaborasi juga mendorong diversifikasi produk. Wisata bahari di NTT, adventure di NTB, dan cultural di Bali saling terkait dalam paket berkelanjutan.
Prospek dan Rencana Pengembangan ke Depan
Ke depan, inJourney akan memperluas infrastruktur. Penambahan fasilitas di Golo Mori dan peningkatan rute penerbangan menjadi prioritas. Target kunjungan wilayah terus naik seiring promosi global.
Pemerintah provinsi akan memperkuat regulasi dan pelatihan. Integrasi data pariwisata antar provinsi memudahkan perencanaan strategis. Pariwisata berkualitas menjadi fokus utama dengan penekanan pada pengunjung high-value.
Dengan kolaborasi ini, pariwisata Indonesia Timur siap bersaing di tingkat internasional. Potensi ekonomi dan sosial akan terus berkembang berkelanjutan.
Kolaborasi inJourney dengan Pemprov Bali, NTB, dan NTT menandai langkah maju signifikan untuk pariwisata Indonesia Timur. Integrasi layanan meningkatkan konektivitas, daya saing destinasi, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Golo Mori sebagai MICE hub menjadi contoh sukses pengembangan berkelanjutan. Anda dapat merencanakan perjalanan ke Bali, Mandalika, atau Labuan Bajo untuk merasakan langsung kemajuan ini. Pantau update resmi InJourney dan kunjungi destinasi unggulan Indonesia Timur segera.

